Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Thursday, 1 December 2016

CERBUNG : BAGIAN 4 (OBROLAN PASAR)

 
Beberapa minggu ini Andang merasa gundah. Istrinya di rumah semakin sering mencurahkan isi hati dengan irama melankolis. Bukan lagi perihal buah hati yang tak kunjung menetap di rahim sang istri, bukan pula soal piutang orang tua sang istri yang menjadi alasan Andang mempredikatkan dirinya sebagai TKI. Hanya saja dua alasan itu yang -memuncul dan tumbuhkan obrolan pasar para ibu – ibu tentang alasan pelarian Andang ke negeri jiran. Di kampung istrinya, tempat tinggal pasutri ini semakin mencuat kabar angin tentang “perselingkuhan” Andang di negeri jiran.

Thursday, 17 November 2016

CERBUNG : BAGIAN 3 (JANJI)

 

Soma terbangun dari tempat tidurnya. Dilihatnya sejumlah pesan bertengger di layar ponsel. Sebuah udangan interview kerja ! ini adalah kabar yang telah ia nantikan sejak lama. Usahanya kala itu mencoba melamar berpuluh puluh web perusahaan bonafit tak kunjung ada kabar. Kali ini, ia harapkan sebuah keajaiban. Panggilan interview kerja pertamanya!

Bergegas ia beranjak dari tempat tidur. Tetap, ia melakukan rutinitas seperti biasanya, menghadap cermin, mengorek segala bentuk exhaust yang ia peroleh saat tidur. Mukanya tetap kusam. Napasnya bagaikan nasi yang lama diendapkan pada genangan air. Hah mungkin sudah waktunya membersihkan diri. Padahal begitu banyak aspek kehidupan yang harus ia bersihkan, bukan hanya sekedar menghilangkan kerak ditubuhnya.

Sesaat sebelum soma menunaikan kebutuhan pribadinya yakni mandi, ponselnya kembali menerima pesan. Tanpa panjang lebar segera ia baca, Oh tidak. Hari ini pula jadwal ia menjemput kakanya di stasiun kereta. Untunglah, hanya harinya yang sama, tidak berlaku pada jamnya. Soma pikir ia masih bisa melanjutkan menghadiri interview baru setelah itu ia jemput keket, kakaknya.

Pukul 07.46

Soma berangkat ke Universitas dekat rumahnya. Tak jauh, sekitar 15 menit ia butuhkan untuk memarkirkan sepeda motornya dihalaman kampus. Beruntung, interview kali ini diadakan di kampus dekat rumahnya.

Setibanya disana, soma bergegas menuju ruang interview yang dikabarkan lewat pesan singkat. Sejumlah manusia telah berjejer rapi di lorong tepat sebelum ruang interview. Bukan hanya soma, ternyata. Tepat pukul 08.00. Populasi pencari kerja memasuki ruang interview.

Tak seperti yang dijanjikan. Bukan interview namanya ketika semua pencari kerja yang diundang alih-laih mendapatkan sejumlah soal mengenai kepribadian. Inimah psikotes namanya! Sebelum soma mengankat tanganya untuk bertanya, salah seorang panitia rectruitmen menjelaskan bahwa, perlu adanya tes ini untuk nanti memudahkan mereka dalam menginterview para peserta seleksi.  Tentunya akan ada sitem gugur di setiap tahapannya.

Mentang-mentang mereka yang berkuasa, mereka juga yang seenaknya merubah aganda yang dijanjikan. Soma pasrah, ia serius mengerjakan test.

Test pertama selesai. Semua undangan diberi waktu 10 menit untuk istirahat. Di saat yang bersamaan panitia rectruitment mengkoreksi hasil pekerjaan 53 peserta test. Tak butuh waktu lama bagi panitia untuk memproses. Daftar nama-nama yang lolos seleksi telah didapat hanya dalam kurun 10 menit. Gila canggih juga mereka !

Saat itu pukul 11.00, saat itu pula soma melihat namanya terdaftar dalam 15 peserta yang lolos seleksi. Panitia mengumumkan peserta yang lolos untuk melanjutkan test wawancara tepat pukul 13.00. Saat yang sama pula soma harus menjemput kakaknya di stasiun.

Sial!

Pulsa Soma habis, padahal ia berencana untuk mengabari keket terkait janjinya untuk tidak ia tepati. Dalam dompet tak terlihat kertas bergambar pahlawan untuk ia tukarkan dengan pulsa ponselnya. 

Sepele sekali, pikir soma.

Ia meminta re-schedule panitia untuk menempatkannya pada peserta terakhir untuk di wawancarai. Soma menjelaskan alasannya.

Sudah barang tentu panitia tidak mengijinkan pergantian jadwal dengan alasan sesepele itu. Toh menurut mereka kakaknya bisa saja ngojek, atau mbecak.

Soma pasrah,

Entah bagaimana ceritannya, kondisi keket di kereta juga sama pasrahnya. Ia baru saja kehilangan dompet berisikan ongkos transportasi dan ponsel pribadinya. Yang ia ingat hanya saat itu ia ngantuk, dan mencoba merebahkan badannya pada pojokan kursi kereta. Bagaimana caranya keket mengabari bahwa ia telah sampai pada adiknya, soma?

Pukul 13.00


Kereta yang keket tumpangi berhenti tepat di peron 5 stasiun muara bening. Keket turun dari kereta dengan lesu, keluar melalui lorong stasiun, menuju ke tempat parkir dengan wajah menunduk. Ia cape. Soma dari kejauhan merasa heran tumben kakaknya yang super bawel tertunduk lesu?

Thursday, 27 October 2016

Cerpen : Mimpi Pak Tani

 
Terik matahari siang itu membumbui keringat Badar yang nampak deras melengaskan seragam petani harianya. Rantang bekalnya telah bersih 60 menit yang lalu saat ia bersimpuh letih oleh ayunan cangkulnya sejak pagi buta. Hingga kini suplemen cinta dari Marni istrinya yang tertuang dalam sarapanya perlahan mengikis layaknya tabungan rumah tangganya akhir ini. Tak seperti biasa hari itu tenaga Badar seakan terkuras lebih cepat dibanding hari biasa. Mungkin karena cuaca bulan ini memasuki musim kemarau, mungkin faktor usianya yang tak lagi muda atau mungkin karena porsi konsumsinya berkurang dari biasa, atau mungkin ketiganya. Badar berhenti sejenak menenangkan cangkulnya ditengah petakan sawah. Pikiranya meluas, dibenaknya mengadu kuat betapa kejamnya hidup ini. Harga sembako yang kian menyiksa, garapan sawahnya yang menurun nyaman karena meningkatnya keinginan para juragan desa memilih mesin modern ketimbang harga keringatnya dan terlebih anak perempuanya Mila yang mulai beranjak masuk semester baru. Ah andaikan sejahtera itu tidak bertolak ukurkan pada uang pikirnya.

Wednesday, 5 October 2016

CERBUNG : BAGIAN 2


seketika cahaya itu menghilang. soma terheran. ah tidak mungkin cahaya tadi adalah hal gaib. tidak mungkin dunia ini akhirnya meng-amini segala hal gila yang soma ilustrasikan semenjak ia duduk di sekolah dasar.
segala sesuatu yang sebenarnya tidak diketahui manusia bumi. segala sesuatu yang sebenarnya tersimpan dan nyaman di dalam perut bumi. punya kehidupan, ekosistem bahkan sistem politik yang mandiri. tidak, itu semua hanyalah hal gila yang ada di dalam kepala soma. sama seperti kegilaan dia menunggu kepastian dan realisasi janji dari gubernur yang ia coblos belakangan ini. kembali ia merenung, kembali ia meyakini bahwa berharap kepada makhuk fana bernama manusia hanyalah buang waktu.


Tuesday, 4 October 2016

CERBUNG : BAGIAN 1


Soma kembali menghitung jumlah bintang lewat jendela kamarnya. Di tempelkannya ke dua lengan ke kusen jati. Hangat sunset pagi masih membekas diserap daun jendela. Hitungan yang tak pernah berakhir, selalu diawali dari sisi kiri gugus layang-layang. Setidaknya begitu yang ayahnya ajarkan, bila tersesat pastikan gugus layang-layang adalah arah selatanmu.

Sunday, 23 December 2012

Cerpen : Cewur Eps. Intro Kelabu

INTRO KELABU

Decit langkah sore itu menemani Roma dalam rintikan hujan. Raut lesu terpampang jelas, lelaki 20 taun ini nampak kalah dalam tender omset milyaran rupiah. Mengenaskan.