Beberapa minggu ini Andang merasa
gundah. Istrinya di rumah semakin sering mencurahkan isi hati dengan irama
melankolis. Bukan lagi perihal buah hati yang tak kunjung menetap di rahim sang
istri, bukan pula soal piutang orang tua sang istri yang menjadi alasan Andang
mempredikatkan dirinya sebagai TKI. Hanya saja dua alasan itu yang -memuncul
dan tumbuhkan obrolan pasar para ibu – ibu tentang alasan pelarian Andang ke
negeri jiran. Di kampung istrinya, tempat tinggal pasutri ini semakin mencuat
kabar angin tentang “perselingkuhan” Andang di negeri jiran.
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Thursday, 1 December 2016
Thursday, 17 November 2016

CERBUNG : BAGIAN 3 (JANJI)
Yujoi
20:00:00
Soma terbangun dari tempat tidurnya. Dilihatnya sejumlah pesan bertengger di layar ponsel. Sebuah udangan interview kerja ! ini adalah kabar yang telah ia nantikan sejak lama. Usahanya kala itu mencoba melamar berpuluh puluh web perusahaan bonafit tak kunjung ada kabar. Kali ini, ia harapkan sebuah keajaiban. Panggilan interview kerja pertamanya!
Bergegas ia beranjak dari tempat tidur. Tetap, ia
melakukan rutinitas seperti biasanya, menghadap cermin, mengorek segala bentuk
exhaust yang ia peroleh saat tidur. Mukanya tetap kusam. Napasnya bagaikan nasi
yang lama diendapkan pada genangan air. Hah mungkin sudah waktunya membersihkan
diri. Padahal begitu banyak aspek kehidupan yang harus ia bersihkan, bukan
hanya sekedar menghilangkan kerak ditubuhnya.
Sesaat sebelum soma menunaikan kebutuhan pribadinya
yakni mandi, ponselnya kembali menerima pesan. Tanpa panjang lebar segera ia
baca, Oh tidak. Hari ini pula jadwal ia menjemput kakanya di stasiun kereta. Untunglah,
hanya harinya yang sama, tidak berlaku pada jamnya. Soma pikir ia masih bisa
melanjutkan menghadiri interview baru setelah itu ia jemput keket, kakaknya.
Pukul 07.46
Soma berangkat ke Universitas dekat rumahnya. Tak jauh,
sekitar 15 menit ia butuhkan untuk memarkirkan sepeda motornya dihalaman
kampus. Beruntung, interview kali ini diadakan di kampus dekat rumahnya.
Setibanya disana, soma bergegas menuju ruang
interview yang dikabarkan lewat pesan singkat. Sejumlah manusia telah berjejer
rapi di lorong tepat sebelum ruang interview. Bukan hanya soma, ternyata. Tepat
pukul 08.00. Populasi pencari kerja memasuki ruang interview.
Tak seperti yang dijanjikan. Bukan interview namanya
ketika semua pencari kerja yang diundang alih-laih mendapatkan sejumlah soal
mengenai kepribadian. Inimah psikotes namanya! Sebelum soma mengankat tanganya
untuk bertanya, salah seorang panitia rectruitmen menjelaskan bahwa, perlu
adanya tes ini untuk nanti memudahkan mereka dalam menginterview para peserta
seleksi. Tentunya akan ada sitem gugur di setiap tahapannya.
Mentang-mentang mereka yang berkuasa, mereka juga
yang seenaknya merubah aganda yang dijanjikan. Soma pasrah, ia serius
mengerjakan test.
Test pertama selesai. Semua undangan diberi waktu 10
menit untuk istirahat. Di saat yang bersamaan panitia rectruitment mengkoreksi
hasil pekerjaan 53 peserta test. Tak butuh waktu lama bagi panitia untuk memproses.
Daftar nama-nama yang lolos seleksi telah didapat hanya dalam kurun 10 menit. Gila
canggih juga mereka !
Saat itu pukul 11.00, saat itu pula soma melihat
namanya terdaftar dalam 15 peserta yang lolos seleksi. Panitia mengumumkan
peserta yang lolos untuk melanjutkan test wawancara tepat pukul 13.00. Saat
yang sama pula soma harus menjemput kakaknya di stasiun.
Sial!
Pulsa Soma habis, padahal ia berencana untuk
mengabari keket terkait janjinya untuk tidak ia tepati. Dalam dompet tak
terlihat kertas bergambar pahlawan untuk ia tukarkan dengan pulsa ponselnya.
Sepele sekali, pikir soma.
Ia meminta re-schedule panitia untuk menempatkannya
pada peserta terakhir untuk di wawancarai. Soma menjelaskan alasannya.
Sudah barang tentu panitia tidak mengijinkan
pergantian jadwal dengan alasan sesepele itu. Toh menurut mereka kakaknya bisa
saja ngojek, atau mbecak.
Soma pasrah,
Entah bagaimana ceritannya, kondisi keket di kereta
juga sama pasrahnya. Ia baru saja kehilangan dompet berisikan ongkos
transportasi dan ponsel pribadinya. Yang ia ingat hanya saat itu ia ngantuk,
dan mencoba merebahkan badannya pada pojokan kursi kereta. Bagaimana caranya
keket mengabari bahwa ia telah sampai pada adiknya, soma?
Pukul 13.00
Kereta yang keket tumpangi berhenti tepat di peron 5
stasiun muara bening. Keket turun dari kereta dengan lesu, keluar melalui
lorong stasiun, menuju ke tempat parkir dengan wajah menunduk. Ia cape. Soma
dari kejauhan merasa heran tumben kakaknya yang super bawel tertunduk lesu?
Thursday, 27 October 2016

Cerpen : Mimpi Pak Tani
Yujoi
20:00:00
Terik matahari siang itu membumbui keringat Badar yang nampak deras melengaskan seragam petani harianya. Rantang bekalnya telah bersih 60 menit yang lalu saat ia bersimpuh letih oleh ayunan cangkulnya sejak pagi buta. Hingga kini suplemen cinta dari Marni istrinya yang tertuang dalam sarapanya perlahan mengikis layaknya tabungan rumah tangganya akhir ini. Tak seperti biasa hari itu tenaga Badar seakan terkuras lebih cepat dibanding hari biasa. Mungkin karena cuaca bulan ini memasuki musim kemarau, mungkin faktor usianya yang tak lagi muda atau mungkin karena porsi konsumsinya berkurang dari biasa, atau mungkin ketiganya. Badar berhenti sejenak menenangkan cangkulnya ditengah petakan sawah. Pikiranya meluas, dibenaknya mengadu kuat betapa kejamnya hidup ini. Harga sembako yang kian menyiksa, garapan sawahnya yang menurun nyaman karena meningkatnya keinginan para juragan desa memilih mesin modern ketimbang harga keringatnya dan terlebih anak perempuanya Mila yang mulai beranjak masuk semester baru. Ah andaikan sejahtera itu tidak bertolak ukurkan pada uang pikirnya.
Wednesday, 5 October 2016

CERBUNG : BAGIAN 2
seketika cahaya itu menghilang. soma terheran. ah tidak mungkin cahaya tadi adalah hal gaib. tidak mungkin dunia ini akhirnya meng-amini segala hal gila yang soma ilustrasikan semenjak ia duduk di sekolah dasar.
segala sesuatu yang sebenarnya tidak diketahui manusia bumi. segala sesuatu yang sebenarnya tersimpan dan nyaman di dalam perut bumi. punya kehidupan, ekosistem bahkan sistem politik yang mandiri. tidak, itu semua hanyalah hal gila yang ada di dalam kepala soma. sama seperti kegilaan dia menunggu kepastian dan realisasi janji dari gubernur yang ia coblos belakangan ini. kembali ia merenung, kembali ia meyakini bahwa berharap kepada makhuk fana bernama manusia hanyalah buang waktu.
Tuesday, 4 October 2016

CERBUNG : BAGIAN 1
Soma kembali menghitung jumlah bintang lewat jendela kamarnya. Di tempelkannya ke dua lengan ke kusen jati. Hangat sunset pagi masih membekas diserap daun jendela. Hitungan yang tak pernah berakhir, selalu diawali dari sisi kiri gugus layang-layang. Setidaknya begitu yang ayahnya ajarkan, bila tersesat pastikan gugus layang-layang adalah arah selatanmu.
Sunday, 23 December 2012

Cerpen : Cewur Eps. Intro Kelabu
INTRO KELABU
Decit langkah sore itu menemani Roma dalam rintikan hujan. Raut lesu terpampang jelas, lelaki 20 taun ini nampak kalah dalam tender omset milyaran rupiah. Mengenaskan.
Saturday, 1 September 2012

Cerpen : Aku Bukan Maling
Rintik hujan masih enggan pergi sore itu. Genangan becek seakan menjadi karpet merah bagi para pengemis jalanan. Sampah plastik juga berduet dengan bau menyengat menghasilkan karya yang tak sedap, seakan panggung ini adalah komplek bantar gerbang.
Berpaling dari kekumuhan pasar, setidaknya ada bangunan berkonotasikan rumah Allah berpelataran agak luas. Di dalamnya terdapat bangunan kecil tepat di pinggir gerbang. Pagar hidup yang tersusun dari pedagang pasar dan beberapa pemuda bertato seakan tak memperbolehkan penghuni bangunan tersebut melihat dunia luar. Bermacam cacian bak paduan suara yang di komandoi oleh dirijen ternama. Nampak tiga sosok pria terkurung didalam pos. Seorang yang berseragam hitam putih kewalahan menenangkan emosi warga, seorang lagi pria paruh baya dengan baju basah kuyup-nya masih merangkul dan mencoba melindungi pemuda ke-3 yang nampak tak berdaya dengan tambahan aksesoris hasil bogem mentah di hampir seluruh wajahnya.
Siang itu Amad masih menunggu gerobak sotonya dikunjungi pembeli. Sedari pagi dirinya dan mang Karto baru melayani 3 mangkok pemesanan, itupun hanya 2 bayaran yang ia terima, lantaran 1 mangkok gagal tersaji untuk pembeli.
‘’uis lah gah, ora usah dipikiri yen rejeki kie ora lunga adoh’’ hibur mang Karto, yang melihat kemurungan partner jualanya.
Mang Karto adalah kerabat dekat almarhum Kisun-ayah Amad. Amad sudah menganggap pria berkopiah putih ini keluarganya sendiri. Sejuta nasehat-nya telah mendidik Amad hingga saat ini. Amad pun tak segan berkeluh kesah masalah keluarganya pada sosok berjenggot lebat ini. Keluarga Amad sendiri jauh dari kemapanan. Ibunya lebih memilih menjadi buruh cuci keliling guna mencukupi kebutuhan Amad dan adiknya Syifa. Syifa adalah satu satunya adik Amad. Amad rela memutuskan sekolahnya demi santapan pendidikan Syifa terpenuhi yang kerap menambah beban anggaran pendidikan yang mencekik.
Satu tahun cukup buat Amad untuk terbuiasa dengan kehidupan pasar bersama mang Karto, begitupun dengan kehilangan sosok pemimimpin keluarga. Ayahnya meninggal lantaran dituduh mencuri di salah satu rumah aparat desa. Tuduhan pencurian telah mengantarkanya pada amuk brutal masa. Usia lanjutnya pun tak mampu menahan sederet luka di sekujur tubuhnya. Hingga akhrinya mandat Allah pada izroil terlaksana.
“apakah status miskin sangat berpengaruh di masyarakat ?” pertanyaan itulah yang selalu ada di pikirannya. Selalu dan selalu.
***
“mad, grimis kie pada neduh yuh sekalian solat ashar” ajakan mang Karto membangunkan Amad dari lamunannya.
“ayuh mang “ jawab Amad tegas.
Dihalaman masjid yang mulai tergenangi air hujan nampak berderet mobil mewah membentuk barisan rapih. Tak heran kemewahan mobil dihiasi ‘Plat merah’ menunjukan jelas ini adalah mobil camat tinggi. Dari luar
nampak kerumunan di dalam masjid berkubah hijau zamrud ini.
“ah, paling paling ada acara syukuran pak camat” gumam Amad dalam hati.
Amad sengaja menata gerobaknya sejejer mobil ber-‘plat merah’ tersebut. Sehingga terbentuklah pemandangan yang sangat kontras. Mang Karto yang sudah paham sifat Amad hanya cengar cengir melihatnya.
Dalam koridor menuju tempat wudlu, Amad melihat tas kulit berwarna coklat tergeletak di pojokan. Rasa heran melanda karena tas sebagus ini tergeletak begitu saja. Kemudian diambilnya untuk ditunjukan ke mang
Karto.
‘tas siapa ini mang ?’ tanya Amad heran.
‘ora ngerti aku ‘ jawab mang Karto ‘uis di dokon bae, paling dekene bojone para camat’
‘iya tapi bagus banget mang, aku pengen ngasih tas kaya kie nggo ibu’ lanjut Amad seakan tak mendengarkan saran mang Karto.
Usai solat ashar, Amad merebahkan tubuhnya disalat satu tiang berbalut marmer si dalam masjid. Mang Karto sendiri kembali ke halaman masjid sekedar mengecek gerobak baksonya, takutnya menghalangi jalan mobil para camat tadi.
Terdengar suara riuh segerombolan masa dari pelataran. Amad tak begitu jelas mendengarnya, rasa letih lebih mendoinasi kinerja syarafnya.
Tiba tiba cengkraman kuat menginterupsi istirahatnya. Rasa kantuk pun sekejap hilang.
Amad yang mulai sadar di bopong sejumlah orang tak dikenal keluar masjid. Tubuhnya terasa alot untuk digerakan. Setidaknya ada empat pasang tangan menahanya. Dalam kebingungan ia mendengar sorakan dari pelataran masjid.
Hajar saja !
Bunuh sekalian !
Dasar maling !
Maling ? lelucon macam apa ini ? Amad mencoba berbicara yang tentunya tak membuat keadaan membaik.
Malah lebih buruk.
Brugg !!
Tubuh Amad terbanting. Mendarat persis di halaman masjid yang penuh genangan air. Sesaat ia membuka mata, lingkaran manusia sudah mengepung tak bercelah. Amad mendapati salah satu camat turut berbaur dengan amuk masa, disampingnya berupa sosok ibu dengan make up khas isteri pejabat.
Amad mencoba berdiri diantaranya.
‘ada apa in...’
Dugg, pukulan telak di pelipis Amad menyela perkataanya. Tanpa sela, dilanjut dengan satu pukulan lagi di perutnya. Uuhhgg Rasa sakit yang belum pernah Amad rasakan sebelumnya. Lebih sakit dari pukulan almarhum ayahnya yang menangkap basah Amad mengambil uang ibunya saat SMP.
‘akkuu sallahh app..
Kembali Amad mendapat pukulan balok kayu di keningnya. Bagian wajah disaat kecil Amad yang setiap malam diusap ibunya dengan penuh kasih sayang untuk pertama kalinya mengalirkan cairan merah kental.
Matanya masih tertuju pada sosok camat yang terus menerus mencacinya. Ahh salah apalagi orang miskin kali ini ???
Pesta salah paham ini diakhiri dengan sumbangan bogem mentah dari setiap warga. Menjatuhkan Amad telak di genangan air halaman masjid. Tubuh Amad sudah tak berdaya istirahat sorenya berahkir dengan perkenalanya bersama tinju amatir. ‘Ya Allah aku bukan maling’ dalam hatinya Amad mengadu pada tuhannya.
Dua sosok menghampiri pemuda tak bersalah ini sesaat sebelum kesadarannya hilang.
***
Benang kesadaran Amad mulai tersambung. Mang Karto masih duduk disisi kiri Amad, merangkulnya. Di luar pos terlihat barisan warga rangkap dua berkumpul dengan amarahnya. Nampak pula sang camat mengintip dari jendela pos.
‘mohon tenang dulu, biarkan pemuda ini mendapatkan hak nya untuk bicara ‘ berkali pak satpam mencoba menengahi keributan.
‘aku weruh dewek cah kue njimot tase !’ jelas seorang saksi, yang nampak seperti preman dengan tato hampir memenuhi lengannya.
‘ya bener, cah kue juga ngomong kepingin duwe tase loh, jal !’ tambah seorang lagi dari dalam kerumunan, memastikan legalitas dakwaan.
Pak satpam yang berdiri di muka pintu berbalik menghadap Amad, menunduk dan menatap mata sayu Amad.
‘apa yang dikatakanya itu benar ?’ jelas pak satpam tak mengharap jawaban iya. Ia pecaya pemuda dengan dua tanda hitam dikeningnya itu adalah pemuda baik baik.
‘ii...yya... aku emang inginn tass itu..’ jawab Amad jujur.
‘kue jelas kan ??!! wis ngaku dewek kan !!’ tandas sang preman yang berdiri paling depan.
Amad mencoba berdiri dengan susah payah, mang Karto menyangganya dari samping. Rasa sakit masih merajai tubuh Amad. Darah dari keningnya yang mengalir melintasi mulutnya mulai mengering, membuat susah berbicara.
‘aku inginkan tas itu, tapi... aku tak sehina para pencuri’ kata Amad terbata.
‘lagipula.. apakah..... kalian lihat akku membawannya ? tanya Amad sambil menatap para saksi.
‘TIDAKK !! aku tak pernah mengambil barang yang memang bukan hakku.. karna dalam ajaran agama ku, tak pernah sekalipun Allah meridhoi harta hasil mencuri..’
Semua terdiam, seakan hanya Amad sendiri di dalam pos.
Amad mendongakan kepalanya. Air matanya berlinang menghapus sebagian sisa daranya yang mengering ‘dan keluarga... keluargaku.... tak pernah Ayahku mengajarkan anak-anaknya mencuri, dia lebih memilih mati kelaparan dari pada makan harta curian.’ Kemudian memejamkan matanya seraya berbisik ‘Dia adalah sosok yang baik dan aku menyayanginya.’
Pandangan Amad tertuju pada jendela kecil, menatap sang camat. ‘aku memang sekedar tukang bakso,dan miskin... tapi agamaku, keluargaku tak pernah mengajariku untuk keburukan. Bahkan mereka senantiasa membuatku terus bertahan dalam kebaikan ! dan satu hal yang perlu kalian tahu....Aku bukan maling !’
Dentuman hebat mendera hati sang camat. Cukup membuktikan bahwa pemuda ini tak bersalah.
Kala itu juga linang air mata bangga mengalir dari sudut mata mang Karto pada putra almarhum kawanya itu.
Saturday, 4 August 2012
Cerpen : Eps. Nyari kontrakan
Rencana besar ini sudah ipung agendakan bersama kedua
temanya jek & gimbal.
Ipung : eh, cepet cari
kontrakan bentar lgi aku diusir dari kosan.
Gimbal : bener gah,
aku juga iya. (nglirik ke jek)
Yuh owh, keburu tukang becak beli motor.
Jek : oke oke.
(shutdown leptop)
Wednesday, 25 July 2012

Gak Penting : Coretan liburan eps. 3 “inget masa yg lalu”
Perlu kalian tau, aku anak pertama dari lima bersaudara.
Tapi hidup sebatang kara di kerasnya ibukota, mengais rejeki dari minta minta,
dan.... eh, aku bohongnya ketauan gak ?
Aku bersyukur punya 3 kaka, gak lebih dan gak kurang. Kalo
adek kayaknya gak punya.
Wednesday, 22 February 2012

di alun alun tempat kita bernanung
Untuk pertama kalinya dalam 3 bulan terakhir, mereka kembali ngobrol dalam satu tempat duduk. Ipung masih senyum kucing mengingat apa yang terjadi pagi ini, seakan masih tak percaya dapat bertemu orang yang pernah ia puja, dulu. Hatinya berdebaaar kencang-debar hatinya ga mau kalah sama detak jantung yang super kencang.
Keringat anget hasil olahraga paginya [dikejar banci] hilang seketika saat bersama nanda, seakan angin sepoi tak tega melihat pertemuan manis ini berantakan.
Keringat anget hasil olahraga paginya [dikejar banci] hilang seketika saat bersama nanda, seakan angin sepoi tak tega melihat pertemuan manis ini berantakan.
“eh nanda udah lama ya?” tanya ipung singkat
“nggak koq ka, baru aja ayah pergi ka ipung dateng” seraya jemari nanda yang lucu menunjuk arak perginya sepeda motor ayahnya.
“owh gitu,,,, ohya gimana keadaanya? Lama banget gada kabar?” celoteh ipung, ia tau pertanyaan ini perlu ia ajukan mengingat betapa besar rindu rindu di setiap syaraf hatinya.
“alhamdulillah baik ka, cuman tadi sebenarnya agak pusing.. tapi ya berhubung nanda udah janji sama ka ipung jadi ga enak ngebatalin”
nanda masih ada rasa kayaknya sama si gondrong satu ini.
“ya elah de, kalo lagi sakit mah jangan di paksain.. ntar malah ujung ujungnya tambah parah loh !” jawaban ipung seakan menyimpan sesatu,,, wkwkw [syahrini kalee]
Suasana siang alun alun saat itu sangat nyaman, sinar matahari sedikit terhalang dengan hadirnya awan putih bersih yang seakan juga turut menanti momen ini. Pohon beringin tua yang menjadi tempat berteduh ipung dan nanda pun tak sedikitpun terlihat lelah mengingat umurnya yang konon sudah mencapai seribu tahun. Tepat Di bawahnya ada bangku taman yang sengaja pengetik hadirkan untuk mempermudah cerita [gaje]. Lanjut....
“ohya ada perlu apa nanda sama ka ipung?” suara ipung lebih merdu untuk ukuran seorang vokalis band rock punk.
“gini ka, sekolah nanda mau ngadain pentas seni gitu” jawab nanda “ kebetulan nanda yang jadi panitianya”
“truss ?”
“ya, nanda punya usulan kan, mau ngundang bandnya ka ipung yang kebetulan juga masih alumni sekolah” jelas nanda sembari menghadirkan senyum cinderella
“truss ?”
“ya ka ipung mau ga ? eventnya lumayan gede sih.. “
“truss ?”
“terus, terus , terus,,, bakat banget ka jadi tukang parkir ?”
“truss ?”
“ih, ko terus terus sih !” nanda mulai inisiatif dengan cubitan mautnya.
“truss “ untuk kesekian kalinya ipung berkata demikian. Yang otomatis membuatnya mendapat cubitan ekstra pedih dari nanda
“AAAAAAAwwwwww....!” jeritan ipung menggemparkan seluruh penghuni alun alun yang saat itu sedang memancing belut [apaa ??]
“AAAAAAAwwwwww....!” jeritan ipung menggemparkan seluruh penghuni alun alun yang saat itu sedang memancing belut [apaa ??]
“nanda ! koq nyubit sih ? ka ipung kan lagi bantuin orang buat parkir mobil...” jelas ipung sedikit dongkol.
“lho beneran toh jadi tukang parkir ??” nanda bingung gak percaya.
***
Di tempat lain akhi yang sedang menemani pacanya [sebut resti] belanja di sebuah pasar yang cukup terkenal dan ramai namun agak sedikit becek yaitu “pasar wage” tiba tiba teringat ipung.
“ini koq tiba tiba aku inget si ipung ya ?” akhi membatin dalam hatinya. “udah lama banget ga ngeband bareng, si jayeng juga”.
“ayang...!!!”
“eh.. iya iya” suara resti mengacaukan khayalan akhi dengan superia [ini nama band]. Sungguh khayalan indah harus hancur oleh monster satu ini.
“ayang koq bengong sihh ? lagi mikirin selingkuhan yah !
“eee.. enggak koq..!”
“truss mikirin siapa ? jujur !”
”ini ay, aku kepikiran sama superia.. kangen ga nge Band lagi... hehe” jawab akhi ragu dan sedikit ngeri dengan reaksi pacarnya ini.
“ga usah mikirin band lagi ! kalo kamu sayang sama aku, udag ga usah sebut sebut yang namanya ngeBand lagi ! titik !”
“tapi ay......”
“udah diem ! bawa aja tuh belanjaan ! masih banyak barang yang belum di beli “
Akhi menunduk lemas gairah hidupnya hilang setelah berbacaran dengan resti. Entah kenapa ia bisa jatuh cinta dan mau dengan cewe kriting ini. Masa masa mudanya seakan terbuang percuma, hari harinya habis sebagai pemeran pembantu dalam alur biadab resti. Sungguh nista perjalanan akhi, disisi lain resti adalah satu satunya cewe yang mau pacaran dengan akhi, mungkin itu sebabnya akhi enggan melawan resti.
Akhi adalah seorang pembetot bass dalam band yang di namai superia. Ia lahir dari keluarga kecukupan, cukup buat beli mobil, motor, rumah. Namun pribadinya yang agak pemalu membuatnya jauh dari kata cewe, walaupun sengat jelas banyak wanita yang ingin mendapatkan hatinya. Mulai dari khotimah : janda kaya di kampung lor, meylin : perawan cina tua yang gak mau nikah sebelum ngedapetin akhi, hingga sugeng : penjual alat alat musik, sekaligus pemilik “toko sixstring”. Di superia, akhi adalah yang paling tua – meskipun dalam sekolah mereka bertiga satu angkatan. Dengan posisinya sebagai oldman, bukanya sebagai pemimpin, dia selalu menjadi suruhan saat bandnya ingin mendapat ijin manggung, mulai dari pengurusan pendaftaran, acara teknikal miting, hingga belanja kebutuhan keseharian superia. Dan menyingkirkan dari faktor itu akhi adalah pemain bass berbakat, dengan segudang prestasi yang diraih bersama superia, dia pernah menyabet gelar best bassis dalam event tahunan di kota buletayu. Saat itu dai memainkan lagu castaway-nya greenDay namun saat solo bass ia banyak melakukan improvisasi jempolan, mulai dari tapping, slap and pop, hingga aksi jungkir balik. Sungguh kenangan yang indah saat itu.
***
Kembali lagi ke pemeran utama, ipung. Obrolan ipung dengan nanda sudah mulai akrab lagi, sang vokalis beersedia manggung [lagi] di bekas SMAnya dulu. Ipung lupa dengan keadaan bandnya saat ini pikiranya sudah dibuatkan oleh gadis manis yang duduk di sebelahnya, entah jayeng mapun akhi bersedia atau tidak kembali menyalurkan kreatifitas mereka dalam sebuah format Band, SUPERIA !
“ka, udah ya itu aja, nanda mau pamit dulu...” kata nanda, dalam hatinya ingin si ipung menahanya untuk pergi dan mengajaknya untuk jalan. Hmmm, dasar cewe...
“owh... itu aja ? ya udah “ jawab ipung bego, saat itu juga nanda merasa kecewa dalam hatinya berkata “yaah, koq cuman itu aja sih ka?”
Dan untuk kesekian kalinya ipung menunjukan ilmu yang ia kuasai “dialog antar hati antar propinsi”.
“emang nanda masih mau bareng sama ka ipung?” hati ipung menjawab
“ia ka..” nanda membatin, dan kembali melanjutkan dialog aneh ini, yang hanya bisa dilakukan oleh orang aneh.
Sudah sudah kembali lagi ke dialog normal !
“eh, nanda laper nggak ? sebelum balik, kita makan dulu yuk ?”
“laper sih, ayuh deh makan...”
Tanpa harus di paksa nanda mengiyakan tawaran ipung. Kemudian mereka beranjak dari bangku taman yang telah 3 jam mereka duduki. Di cerahnnya siang itu mereka berjalan menelusuri sepanjang trotoar kota, merasakan semilirnya angin yang membasauh setiap pori pori kulit seakan berjalan di atas awan putih dengan balutan hangat mentari sebagai butiran semangat yang tak habis. Setelah beberapa ruko terlewati, tibalah mereka pada sebuah rumah makan nan indah dan asri, penuh dengan bunga mawar di setiap pagar pagar yang menghalangi polusi hadir didalamnya. Tembok yang mozaik antik mengsiasi setiap dinding bagian luar, menyampaikan pesan seakan rumah makan ini hanya untuk orang berduit dan berani [berani pake duit].
Ipung melangkah masuk dan memimpin nanda yang mengikuti dari depan. Dalam ruangan itu, masih dihiasi mozaik antik, yang bahkan lebih menarik dibanding yang di luar. Di setiap sudut terdapat guci antik bermotif robot modern. Bufet bufet besar berjejer rapi dengan menunjukan koleksi gelas kristas sebagai pajangan. Si pemilik toko yang ternyata cukup putih, jenggotnya putih, rambutnya putih, bahkan pakaina yang ia kenakan hitam, datang menyambut ke dua mantan sejoli ini.
“silahkan lihat lihat dulu, di sini tempatnya barang barang keramik dan kristal terlengkap...” kata si pemilik toko dengan nada yang fales.
“toko keramik ?” ipung bingung. Nanda menatapnya dengan heran.
“maap pak, kita salah toko...
Banyak hal lucu terjadi saat ipung berkelana dalam kisahnya, terutama saat bersama nanda –yang juga sama nylenehya- mulai dari hal sekecil tadi, saat salah toko hingga dikira pasangan mesum saat mereka piknik bersama di baturaden.
Tak terasa saat mereka bersama sangat cepat, dengan tertunjuknya angka 4 oleh jarum pendek pada jam tangan nanda, maka tertunjuk pula pertemuan mereka pada perpisahan. Bukan perpisahan yang terlarut dalam sedih, mereka berpisah dengan hati ceria, nanda telah merampungkan tugasnya untuk merekrtut si sinting pada acaranya nanti, dan si sinting merasa kangenya yang cukup besar telah terbayar lunas. Sore yang indah untuk sekedar dinikmati mereka berdua.
Monday, 20 February 2012

setalah sekian lama
Lantunan lagu “last night on earth”-nya green day masih terdengar saat ipunk baru beranjak dari tempat tidurnya-yang penuh dengan paku- ya ampun ini tempat tidur apa toko material ?. mengingat kejadian semalam ipunk yang sedang demam demamnya lagu lagu green day lagi rajin masang figura greenday mulai dari si vokalis sekaligus gitarisnya : billie joe amstrong, sang basis mike hingga photo tree cool yang lagi nggebukin gendang ia punya.
Kamarnya kini terlihat lebih rame, berbeda dengan dua hari sebelumnya : hampa-sepi, gara garanya ia galau terus sepanjang 2 hari itu, bagaimana tidak ? teman satu bandnya yang dulu punya satu misi satu visi satu kiblat [greenday sebagai influence] tiba tiba ga mau ngeband lagi cuman gara gara para sang pacar yang lagi demam “boy band korea dan lokal” ga ngijinin mereka buat ngeband- katanya boyband itu otomatis adalah musuh dari anak band [sebut bander]. Jelas ipunk dongkol banget, bandnya buar karna penjajahan para wanita sinting macam itu. Tapi sehari setelah itu ipunk malah makin menggebu nggebu ngeFans sama yang namanya greenday- dia ga peduli dengan demam boyband sekarang, yang jelas jelas telah merusak cita citanya jadi anak band terkenal.
Ipunk emang anak yang sedikit aneh dibanding temen temenya yang lain, dia loyal banget sama greenday. Disaat temen temennya yang juga anak band [tapi bukan satu band] demam avenged sevenfold, ipunk tetep milih greenday sebagai kiblat musik bandnya. Ipunk makin gila saat temen satu bandnya : jayeng [drummer] dan akhi[bassis] juga punya visi yag sama kaya si gitaris sekaligus vokalis band yang dinamai “superia” itu.
07.30
Ipunk yang baru saja selesai dengan ritual mandinya [seumur umur baru hari minggu ini ipunk mandi pagi] langsung nyari perangkat wajibnya saat hari minggu-dengan handuk masih terikat di pinggang-. Pengeras suara atau lebih akrabnya salon ia colokin ke stopkontak, di hubungkanya kabel salon pada laptop bututnya –yang masih muter lagu lagunya greenday. Full-in volume itu yang si anak gondriong ini lakukan. Ia da peduli apa para tetanggannya yang lagi nikmati minggu pagi cerah ini terganggu atau nggak, ipunk bukan orang yang suka pikir panjang dengan apa yang akan dia lakukan- bahkan saat marweng [temenya] meninggal. [marweng seekor burung emprit].
“turutut turutut...” suara sms masuk pada hape nokianya.
Spontan ipunk ngambil tuh hape –padahal saat itu dia baru pake cangcut- [untung dikamarnya sendiri coba kalo didepan teras ]
“ka nanti siang bisa ketemu ga?”
Ada apa ini ? tubuh punk ga bisa gerak__ didalam tubuhnya ternyata si jantung lagi senyum senyum, si hati lagi jingkrak jingkrak saking senengnya dapet sms dari nanda [gebetan ipun pas sma, umurnya 2 tahun lebih muda dari ipunk,, jadi saat si anak band ini kelas tiga, nanda baru masuk kelas satu]
“ada apa ya ? beberapa bulan ga ada kabar tiba tiba dia sms?”
Perlu pembaca tau kisah asmara ipunk tak pernah berjalan mulus, berlobang terus deh kaya jalan di brebes, bikin enek !. nanda adalah cewe pertama yang ipung taksir, cewe pertama yang ipung tembak, dan cewe pertama pula yang nolak cinta ipung. Padahal sih sudah jelas dua sejoli ini saling cinta, cieeee... tapi ga tau kenapa nanda jelas nolak si ipung namun juga ngasih syarat dia mau jadi pacarnya asal ipung mau nunggu 3 tahun [pas nanda lulus sma]. Dan si ipung rela ! dia mau nunggu ! ya ampun kaya ga ada cewe lain aja pung? Alasan ipung pun simpel “karna meskipun aku anak band tapi aku bukan playboy”.
“ya bisa de, ntar jam 10 kita ketemu di alun alun aja”. Lalu ia kirim pesan itu ke nomor sugeng, eh salah nanda maksudya- sori.... sugeng itu masa lalunya ipung.
___
Pagi itu bener bener bara semangat ipung mengalir deras melalui setiap pembuluh darah di tubuhnya, kulitnya terbakar semangat muda yang membara. Setiap langkah kakinya menuju daper untuk sarapan sangat berbeda waktu itu, ipung saat berjalan Cuma pake dua jempol kaki !
Didapur ada sosok wanita berbaju gamis abu abu dengan kerudung warna hijau, tubuhnya masih tegap berdiri meskipun usia telah membebani. Sosok yang penuh dengan kasing sayang, jelas sosok itu tak pernah mengharapkan apapun dari anak anaknya yang ia besarkan dengan penuh cinta tulus, sosok itu yang membesarkan ipung dari di dalam kandunganya hingga sekarang. Sosok itu tak pernah mengeluh saat amarah ipung terlampiaskan padanya. Ipung tak pernah sadar punya sosok yang sangat berarti dan baik hati padanya itu. Disetiap ayunan pisaunya-saat itu sedang memotong bawang- menunjukan berbagai makna tersirat, penuh dengan histori sedih, pengorbanan untuk kehidupan anak anaknya. Kerutan di wajahnya sudah tak terlelakan –itu karna ga pake ponds age miracle kali yee- [lucu lucuuan aja gan, kayaknya udah jadi serius baca cerita ini]
“mah, makan apa nih ?” tanya ipung pda sosok itu yang ternyata ibunya [pasti pembaca ngiranya bapaknya ya? Hayoo ngaku..?]
“ini seadanya aja pung.... ayam bakar sama semur salmon” kata ibunya sedih
“bosen mah udah tiga hari ini makannnya ini ini terus..”
“bapak kamu kan belum ngirim uang bulan ini pung, dan terpaksa makan apa adanya”
Ipung cemberut dengan menu sarapan pagi ini, seakan pagi yang seharusnya sempurna hancur total. Tapi ipung tak hari minggu ini suram, nanda ! ya nama gadis itu selalu ia pikirkan disetiap giginya mengunyak makanan di mulutnya. Entah apa yang dipikirkan ipung tentang si nanda, tapi dilihat dari binar matanya seolah ini adalah akhir dari perpisaan panjang antara dua sejoli yang agak cocok ini.
“bagaimana ya nanda sekarang?” pikir ipung, semoga dia makin cantik... hehehe
Terlihat disudut ruang keluarga, jam dinding antik menunjukan pukul 9.45, semakin berdebar jantung ipung.
“mah, aku mau keluar dulu.. ada urusan soalnya..”
“urusan apa pung?’ sahut ibunya
“temen mah, katanya dia pengen ketemu”
10.00 di alun alun kota
Ipung sudah terlihat rapi menunggu si mantan pujaan hati, ipung bilang pada temen temenya sih udah ga ada rasa sama si nanda.. tapi... ya sapa tau hasil dari pertemuan ini benih benih cinta ipung kembali muncul.
“toer toer...” bunyi pesan masuk pada hape ipung-yang ternyata sudah diganti nadanya-
“ka ipung dimana ? nanda udah nyampe alun alun”
Jantung ipung makin berdetak hebat, pohon beringin tempat ia bersandar pun ikut bergetar. Belum sempat ipung membalas sms tadi terlihat sosok yang ia kenal di balik abang penjuan somai-yang setiap hari jualan di alun alun.
“deg deg deg deg !” ya ampun kenceng banget nih, bisa bisa pingsan deh kalo ketemu dia.
Sosok tadi mendekat kearah ipung, rupanya semakin jelas : ia berambut panjang ,-Keringat mulai keluar dari wajah ipung. Semakin dekat sosok tadi, terlihat lagi ia menggunakan kaos oblong putih polos bertuliskan “I love NY “, celana jeans hitam ketat namun cocok sekali dengan setelan sepatu cat seharga 50.000 rupiah. Tubuh ipung mulai tidak terkontrol seakan setiap organ tubuhnya lemas tak berdaya. Semakin dekat wajahnya pun mulai terlihat jelas, jelas ini membuat keadaan ipung kian parah. Hinggan tiba momen saat ipung berhadapan langsung dengan sosok tadi, sangat jelas mata biru itu memandang ipung yang yaah[sangat parah]. Saat itu juga bibir ipung seakan hendak mengucapkan sesuatu, semakin ia berusaha berkata semakin sulit pula bibirnya untuk di gerakan...
“haloo cakepp” suara sosok tadi langsung memecah keheningan “boleh gak eke kenalan?”
“BENCOOONGGG........!!!!!”
Spontan si gondrong ini lari menjauh dari sosok misterius tadi- yang ternyata si bencong alun alun. Sesekali ia menoleh kebelakang-yang untungnya tak ada tanda si bencong mengejar.
Merasa aman, ipung berhenti dan duduk di salah satu bangku yang ada di alun alun,
“ya ampunn.... sial banget deh...” ipung kesal
“sial kenapa pung?” kata seorang yang duduk di sebelahnya.
Ipung menoleh,kemudian menegakan tubuhnya yang sempat ambruk gara gara shok atas kejadian tadi dilihatnya sesosok yang sangat familiar.. gadis manis, berkerudung coklat muda, dengan setelan kemeja coklat bermotif kotak kotak yang terlihat sangat cocok dengan celana kain hitam yang ia pakai. Wajahnya terlihat cerah meskipun tak terlihat ia me-make-up wajahnya, sehingga terlihat sangat natural. Bibirnya yang tipis dan pink alami seakan menambah decak kagum ipung padanya, ditambah tatapan hangat dari kedua bola mata coklat beningnya...
“emm..... nanda...???”
Subscribe to:
Posts (Atom)