Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Monday, 27 May 2019

Kesaksian

 

Dari getir darah yang menetes
Dari peluh yang tiap waktu kian mengeruh
Tercampur debu jalan tanah

Atau rambut yang terus memerah terbakar matahari

Aku bersaksi masih cinta kau saat ini

Wednesday, 8 May 2019

Kersen

 

April
Entah di tanggal berapa kau tanggalkan kesan seakan
Yang lalu tak bisa berlalu yang datang tak kunjung datang

Masih di April
Tiap pagi kuhabiskan beberapa kersen yang sempat kau petikkan
Sedikit kucampur madu, biar terasa pahit

Penghujung
Kusisakan satu, untuk kutanam
Di samping balkon yang sengaja tak pernah tertutup
Berharap kau datang lagi, memetikkan dari seberang sana

Kotor

 

Tidak demikian, bila
Kita tau
Tau mana yang bersih, mana yang kotor
Mana yang tersisih, mana yang meneror

Masa lalu hanyalah
Masa untuk lantas dilupakan
Tidak demikian, bila
Kita mengerti
Ada baik disetiap buruk
Ada buruk disetiap baik

Tuesday, 11 November 2014

Puisi : BERBINCANG DENGAN WAKTU


(UNTUK NAMA YANG KUSELIPKAN DALAM DOA)
Aku pengecut,
Tentang mata yang telah tuhanku berikan
Terasa terhalang oleh malu ketika menatapmu
Aku pasangi pigura disetiap sketsa wajamu
Yang kugambar sendiri dengan hati gemetar
Tak kuasa menahan nikmat dan sanjungan tinggi pada ilahi
Yang telah menciptakan mahluknya berpasang pasang
Yang telah menjadikan diriNYA arsitek tiada banding
Merangkai setiap inci daging berbalut kulit langsat
Berbau wangi,
Itu dirimu
Aku pengecut
Tentang nyali yang harusnya ada pada setiap lelaki
Tentang apa yang seharusnya dilakukan umat Muhammad
Syariat ajaranya tidak mengajarkan dua insan
TIDAK UNTUK
Menggenggam tangan, menyimpulkan setiap jemari
Mengungkapkan cinta atau biasa disebutkan dengan nafsu
Tanpa ikatan, tanpa jual-beli yang sah
Tanpa legalitas dari agamaku dan negaraku
Aku pengecut
Mencoba menyalahkan Takdir
Yang mempertemukanmu denganku
Disaat semuanya masih minus, disaat ruhku masih terjerat dalam jasad pengecut
Kondisi ini, memunculkan berbagai spekulasi
Akankah hati ini tersaikti
Bila kau lukisan yang kupandangi selama ini, akan berakhir bukan bersamaku
Karena ke-pengecutan-ku ?
Harapanku yang tak mungkin
Untuk bisa mengatur waktu pertemuanku denganmu
Bukan untuk saat ini,
Tapi dikemudian hari ketika nafsuku tidak tertindih lemahku
Ketika usahaku mampu belikan cincin untuk jarimu


PURWOKERTO 16 AGUSTUS 2014

Wednesday, 17 April 2013

Puisi : Kau Yang Ku Sebut Mentari


Ragaku mampu menerobos gelap hanya dengan setitik cahaya
Lenganku sanggup mengangkat semua perih kehidupan berikan
Betisku mampu menahan langkah bermil jauhnya harapan 
Tapi hatiku tak sanggup walau hanya sedetik engkau tak acuhkan

Sunday, 9 January 2011

Puisi : Tak Ada Lagi....

yang lalu..
aku terdampar dikeruhnya dunia,,,
sangat fana...

terang sang fajar pun tak mampu bangunkanku...
rumit..
sebuah logika cinta... 
sangat....
kepalsuan nurani hanya bisa menerbitkan derita....kepalsuan rasa tak dapat cerahkan hati...
sangat kecil,,,
identik dengan segumpal kejujuran manusia..
entah kanpa harus seperti ini....
penuh derita...
penuh kepalsuan...
Ku ingin terbangun lagi...dimulai dari nol....
calon kebahagiaan yang kusiakan....
ya,,,
kembali jadi diri..
punuh emosi... ambisi...